P5HAM Turun Ke Wangunjaya Naringgul,Air Bersih Jadi Tamparan Bagi Komitment Negara

CIANJURKINI.COM

Negara bicara tentang hak asasi manusia, tetapi di Desa Wangunjaya, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus mendasar: air untuk kehidupan sehari-hari saja masih sulit didapat warga. Kondisi ini menjadi tamparan sekaligus ujian nyata bagi komitmen negara dalam memenuhi hak dasar masyarakat.

Persoalan tersebut mencuat saat program Pemajuan, Perlindungan, dan Penegakan Hak Asasi Manusia (P5HAM) turun langsung ke Desa Wangunjaya, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan yang semestinya berbicara tentang pemenuhan hak warga justru berhadapan langsung dengan realitas bahwa akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan.

Anggota DPR RI Komisi XIII dari Fraksi Partai Golkar, Isfhan Taufik Munggaran, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa P5HAM tidak boleh berhenti sebagai forum penyuluhan ataupun seremoni tahunan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan pemajuan HAM bukan seberapa banyak materi yang disampaikan atau dokumen yang dihasilkan, melainkan seberapa jauh masyarakat merasakan haknya dalam kehidupan sehari-hari.

“P5HAM memiliki dua sisi. Satu sisi adalah sosialisasi agar masyarakat memahami hak-haknya. Sisi lainnya adalah pengawasan untuk memastikan hak tersebut benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Isfhan.

Air Bersih, Hak Dasar yang Tak Boleh Ditawar

Di Wangunjaya, fungsi pengawasan itu langsung menemukan persoalan konkret.

Warga masih menghadapi keterbatasan akses air untuk kebutuhan rumah tangga. Air yang seharusnya menjadi kebutuhan paling mendasar justru menjadi persoalan yang harus mereka hadapi.

Isfhan menilai kondisi tersebut tidak boleh dipandang semata-mata sebagai persoalan teknis karena debit air berkurang saat musim kemarau.

“Kondisi tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan debit air yang berkurang, tetapi menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang seharusnya mendapatkan perhatian serius,” tegasnya.

Air berkaitan langsung dengan kehidupan warga. Ketika air sulit diperoleh, aktivitas memasak, mandi, menjaga kebersihan hingga kesehatan ikut terganggu.

Karena itu, persoalan Wangunjaya menjadi lebih dari sekadar persoalan infrastruktur. Ini menyentuh langsung kewajiban negara dalam memastikan hak dasar masyarakat terpenuhi.

P5HAM Jangan Berhenti di Atas Panggung

Isfhan mengingatkan agar P5HAM tidak berubah menjadi kegiatan yang hanya ramai ketika acara berlangsung, tetapi sepi tindak lanjut setelah rombongan meninggalkan desa.

Menurutnya, P5HAM harus menjadi alat untuk menemukan persoalan masyarakat sejak awal, kemudian mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan mengambil langkah penyelesaian.

“P5HAM tidak boleh terjebak menjadi agenda seremonial tahunan. Program ini harus berfungsi sebagai alat deteksi dini terhadap persoalan masyarakat,” katanya.

Temuan di Wangunjaya, lanjutnya, harus ditindaklanjuti secara lintas sektor, mulai dari penyediaan infrastruktur, pengelolaan sumber air hingga memastikan bantuan benar-benar tepat sasaran.

Negara Diuji dari Air yang Mengalir

Bagi Isfhan, persoalan air bersih tidak boleh terus dianggap sebagai persoalan kecil yang bisa menunggu.

Masyarakat membutuhkan solusi konkret.

Kehadiran negara harus dirasakan dalam bentuk tindakan nyata, bukan sekadar janji dan program.

Sebab, ukuran sederhana dari kehadiran negara bisa dilihat dari kebutuhan paling mendasar masyarakat.

Jika warga masih kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari, maka di situlah komitmen terhadap HAM sedang diuji.

Dan bagi warga Wangunjaya, jawaban atas ujian itu sesungguhnya sederhana:

bukan pidato tentang HAM yang mereka butuhkan, melainkan air yang benar-benar mengalir untuk kehidupan mereka.

Duy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *