Hari Juang Polri Di Cianjur Ungkap Jejak 67 Polisi Kibarkan Merah Putih Sehari Sebelum Proklamasi

CIANJURKINI.COM

Suasana khidmat mewarnai upacara peringatan Hari Juang Polri yang digelar jajaran Polres Cianjur pada Jumat (21/8/2026). Peringatan yang dilaksanakan setiap 21 Agustus tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial internal kepolisian, tetapi juga menjadi momentum untuk menggali kembali jejak perjuangan polisi di Cianjur pada masa awal kemerdekaan.

Dalam kegiatan tersebut, Polres Cianjur menghadirkan sejarawan dan penulis asal Cianjur, Hendi Jo, untuk memberikan perspektif sejarah mengenai kiprah anggota kepolisian di daerah ini menjelang dan setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Kehadiran Hendi Jo membuat peringatan Hari Juang Polri di Cianjur memiliki makna tersendiri. Sejarah yang selama ini berkembang dalam berbagai catatan dan penuturan kembali diangkat ke ruang publik, khususnya mengenai keberanian anggota kepolisian Cianjur yang disebut telah mengibarkan Merah Putih sehari sebelum Proklamasi.

Hari Juang Polri diperingati setiap 21 Agustus berdasarkan Keputusan Kapolri Nomor Kep/95/I/2024 tentang Hari Juang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Penetapan tersebut merujuk pada peristiwa Proklamasi Polisi pada 21 Agustus 1945 di Surabaya, ketika Inspektur Polisi Kelas I Moehammad Jasin bersama Polisi Istimewa menyatakan kesetiaannya kepada Republik Indonesia.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak sejarah perjalanan Polri. Pada 21 Agustus 1945, Polisi Istimewa menyatakan diri sebagai Polisi Republik Indonesia dan kemudian menunjukkan kesiapan mempertahankan kemerdekaan.

Namun, peringatan Hari Juang Polri di Cianjur tahun ini memiliki warna tersendiri. Di tengah suasana upacara, perhatian diarahkan pada peristiwa bersejarah yang terjadi di Cianjur pada 16 Agustus 1945, tepat satu hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan.

Kapolres Cianjur AKBP Akhmad Alexander Yuriko Hadi menyampaikan, berdasarkan penelusuran sejarah, sebanyak 67 anggota polisi yang bertugas di Cianjur kala itu berani menurunkan bendera Jepang dan menggantinya dengan Sang Merah Putih.

“Sehari sebelum resmi Negara Republik Indonesia diproklamirkan oleh Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, sejatinya pada tanggal 16 Agustus 1945, di Cianjur, polisi yang bertugas di Kantor Karesidenan Cianjur telah berani menurunkan bendera Jepang, kemudian mengibarkan bendera Merah Putih,” ungkap Alexander.

Menurutnya, keberanian para anggota polisi tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan masyarakat Cianjur dalam menyambut kemerdekaan.

Peristiwa tersebut bahkan disebut menjadi pemantik keberanian masyarakat untuk turut mengibarkan Merah Putih di berbagai tempat dengan menggunakan peralatan seadanya.

“67 anggota Polisi berani untuk mengibarkan bendera Merah Putih. Kemudian peristiwa tersebut menjadi trigger masyarakat Cianjur untuk menggunakan seadanya yang bisa dijadikan tiang untuk mengibarkan bendera Merah Putih,” ujarnya.

Polres Cianjur Telusuri Identitas 67 Polisi

Polres Cianjur tidak ingin sejarah tersebut berhenti sebagai cerita lisan. Jajaran kepolisian bersama sejarawan berencana menelusuri identitas 67 anggota polisi yang terlibat dalam peristiwa tersebut, termasuk mencari keberadaan keluarga maupun keturunannya.

Langkah itu dinilai penting sebagai bentuk penghormatan terhadap para pendahulu Polri yang telah mengambil risiko besar pada masa menjelang lahirnya Republik Indonesia.

“Kami akan memberikan apresiasi dan melakukan penelusuran terhadap ke-67 anggota Polres Cianjur pada waktu itu. Sekarang keluarganya di mana dan seterusnya,” kata Alexander.

Ia menegaskan, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.

“Kami sangat menghargai para pendahulu kami yang telah dengan sangat berani mengibarkan bendera Merah Putih, bukan hanya untuk Cianjur, tetapi untuk Indonesia,” tegasnya.

Hendi Jo Hadir Mengurai Jejak Sejarah Polisi Cianjur

Sejarawan dan penulis asal Cianjur, Hendi Jo, yang hadir dalam rangkaian peringatan Hari Juang Polri di Polres Cianjur, turut mengurai pentingnya penelusuran sejarah tersebut. Menurutnya, masih banyak catatan perjuangan di daerah yang belum terdokumentasikan secara utuh.

Hendi menyebut, kisah 67 polisi Cianjur tersebut merupakan bagian dari sejarah lokal yang penting untuk ditelusuri kembali secara serius. Ia menekankan bahwa persoalan utama bukan hanya mengingat peristiwanya, tetapi memastikan dokumen, nama tokoh, lokasi, serta rangkaian kejadian tersimpan sebagai warisan sejarah.

Karena itu, ia mendorong agar hasil penelitian mengenai perjuangan polisi Cianjur disampaikan kepada Mabes Polri dan menjadi bagian dari dokumentasi resmi sejarah kepolisian Indonesia. Hendi juga menilai lokasi-lokasi bersejarah di Cianjur perlu mendapatkan perhatian dan perlindungan agar jejak perjuangan tersebut tidak hilang. Gagasan penetapan sejumlah lokasi sejarah perjuangan di Cianjur sebagai cagar budaya sebelumnya juga telah mengemuka.

Menurut Hendi, sejarah perjuangan tersebut layak mendapatkan tempat dalam Museum Sejarah Polri karena memiliki nilai penting bagi generasi mendatang. Ia menilai dokumentasi sejarah merupakan cara untuk memastikan keberanian generasi terdahulu tidak berhenti sebagai cerita yang mudah hilang dari ingatan masyarakat.

Perjuangan Tak Berhenti pada Pengibaran Merah Putih
Jejak perjuangan polisi dan masyarakat Cianjur, kata Hendi, tidak berhenti pada peristiwa pengibaran Merah Putih.

Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, polisi bersama masyarakat Cianjur juga disebut terlibat dalam berbagai perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan, salah satunya pertempuran melawan pasukan Inggris di kawasan Jembatan Cisokan.

Peristiwa tersebut bahkan disebut memiliki catatan dalam literatur sejarah militer Inggris.

Hendi menilai, pengungkapan kembali sejarah perjuangan tersebut penting untuk membangun kesadaran sejarah masyarakat, terutama generasi muda. Catatan mengenai pengibaran Merah Putih di lingkungan kepolisian Cianjur pada 16 Agustus 1945 juga telah diberitakan sebagai salah satu jejak penting perjuangan kepolisian daerah tersebut.

“Kita bukan masyarakat pecundang sebetulnya. Kita merupakan masyarakat yang memiliki sejarah besar dengan terlibat dalam berbagai perlawanan,” tegasnya.

Dengan demikian, upacara Hari Juang Polri di Polres Cianjur pada Jumat, 21 Agustus 2026, bukan hanya menjadi momentum mengenang Proklamasi Polisi di Surabaya. Kehadiran sejarawan Hendi Jo sekaligus memperkuat pesan bahwa sejarah perjuangan Polri di daerah harus terus ditelusuri, diverifikasi, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sejarah 67 polisi yang mengibarkan Merah Putih pada 16 Agustus 1945 menjadi pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga memiliki jejak kuat di Cianjur. Kini, tugas generasi penerus adalah merawat, menelusuri, dan memastikan kisah tersebut tercatat sebagai bagian dari sejarah bangsa.

Duy